Kamis, 08 September 2011

Belajar Menjadi Murid


Bagian 2.
Saya lulus  kemudian pergi ke Kalimantan. Tujuan utama adalah untuk menimbang panggilan hidup : menjadi awam atau menjadi suster. Delapan belas bulan saya habiskan untuk memikir dan menimbang.  Basecamp saya adalah Paroki Tenggarong, Kutai Timur. Saya membantu pekerjaan di paroki dan di sanalah awal saya memperbincangkan kerinduan saya dengan seorang imam SVD.  

Dari buku petunjuk gereja saya tahu ada banyak sekali kongregasi. Namun satu – satunya kongregasi yang saya kenal waktu itu adalah salah satu kongregasi fransiscan.  Pikir saya waktu itu, ”Memang ada beda signifikan antar kongregasi? Bukankah mereka semua berjubah dan tidak menikah?”.   Ach naifnya saya .... belakangan saya tahu bahwa setiap kongregasi memiliki karisma dan spiritualitasnya masing-masing. 

Alasan saya memilih melamar ke kongregasi ini adalah karena ini kongregasi guru katekumen saya. Meski saya belum mengenalnya, toch saya mengirim surat juga ke Semarang.  Balasan datang dari suster pemimpin noves (almarhum).  Kata-kata beliau menyejukkan dan tulisan tangannya bagus sekali.  Bukan main girang hati saya.   Kisah panggilan sayapun secara serius dimulai. Dalam keraguan dan kecemasan akan kebenaran pilihan saya, saya mengetuk pintu biara ini. Saya sadar betul bahwa tidak akan ada tanda maupun jawaban pasti dari pencarian ini namun yang saya tahu adalah saya mengikuti dorongan hati terdalam dan yakin Tuhan akan menuntun saya.  Panggilan saya yang pertama adalah menjadi Suster Fransiscanes.  Itu terjadi tahun 1989.  Dua tahun setelah saya lulus.

Tiga tahun saya jalani pendidikan postulan dan novisiat. Saya merasa pada saat itulah saya mulai mengenal Tuhan di dalam hidup saya. Ia memperkenalkan diri-Nya secara intensif dan saya menanggapi-Nya dengan penuh semangat.  Ia bukan-Nya tidak terjangkau untuk dikenal oleh manusia. Ada saat ketika saya mengeluh kepada-Nya dengan keluhan St. Agustinus,’Tuhan, terlambat saya mengenal-Mu. Kalau tahu begini saya tidak akan berlama – lama mengahabiskan waktu di banyak tempat.’  Seperti seorang guru mendidik muridnya, Tuhan mengenalkan diri–Nya secara personal kapada saya. Pernahkah kamu rasakan cinta yang tidak sanggup kau deskripsikan, yang membuatmu merasa hal-hal lain di dunia nampak kurang berharga?  Itulah pengalaman akan Allah dan betapa Tuhan memanjakan saya dengan pengalaman semacam itu.

Saat itu adalah saat saya dikelilingi dan dibantu para formator terbaik. Saya diajari bagaimana mengenal diri dan mengenal Tuhan, menambal yang luka maupun  merangkul kelemahan. Beberapa pengajar adalah imam dari Serikat Yesus (SJ).  Dari mereka saya mengenal Spiritualitas Ignasian dan salah satu di antaranya adalah semangat Magis, to be more. Saya belajar mengabdi-menghormati-memuliakan Allah melalui kehidupan sehari-hari yang sangat sederhana : misalnya dalam membersihkan kamar mandi/WC, dalam menyirami tanaman, dalam mengelap meja, dalam bernyanyi pun dalam berdoa.  Pendek kata, dalam hal apa pun.  Kata kuncinya adalah belajar mengalahkan diri.  Pekerjaan seremeh apa pun lalu menjadi sangat bermakna ketika diletakkan dalam konteks pujian dan pengabdian.  Hidup berkomunitas, meski tidak mudah, namun harus diakui …. sangat menggembirakan.  Sungguh itu merupakan saat yang  luar biasa dan saya sangat bersyukur akan hal itu.

Kaul pertama terjadi tahun 1992.  Saya tidak akan mengisahkan perjalanan selama 4 tahun sejak tahun 1992.  Pada tahun 1996 masa kegembiraan saya sebagai Suster fransiscanes pun berakhir. Saya tidak diterima untuk memperbaharui kaul.  Artinya saya harus meninggalkan kongregasi yang selama ini menjadi ibu dan guru saya.  Sangat gelap, itulah gambaran saya akan masa itu.

Jika merenungkan kembali peristiwa itu maka saya menyadari bahwa saat itu merupakan titik terendah sekaligus titik balik di dalam hidup saya.   Lama baru saya menyadari bahwa itu adalah saat ketika “saya dilahirkan kembali secara baru”.  Kongregasi fransiscan yang saya tinggalkan hanyalah tempat singgah sementara, tempat saya ditempa dalam pendidikan rohani dasar.  Tuhan yang sangat mengenal saya hendak menuntun saya ke tempat yang baru – yang dikehendaki-Nya.  Pada saat itu saya belum mampu menangkap maksud hati-Nya maka saya menggerutu. Berulang kali. Dengan sekuat tenaga. Dan memuncak dalam kemarahan yang tak terktakan.  Pada siapa?  Pada banyak orang namun akhirnya tertuju pada satu pribadi : pada Tuhan.

Text Box: ”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.  Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (ayub 42: 5-6).Dalam Kitab Keluaran, dikisahkan umat Israel keluar dari Mesir melalui Laut Merah dan masuk ke padang gurun. Keluaran dari Mesir menuju tanah terjanji, itulah gambaran saya mengenai  masa tiga tahun setelah peristiwa itu.  Itulah masa padang gurun saya. Sembari mencoba memaknai peristiwa yang baru saja saya alami, saya merancang kehidupan baru. Saya ke Jakarta, bekerja dan  melanjutkan studi.

Tiga tahun itu sungguh masa yang sangat berat.  Persis umat Israel yang marah, kesal, lelah, menggerutu, menuntut dan mengikuti kemauan sendiri, itu pula yang terjadi pada diri saya.  Ada banyak sekali pertanyaan dan tak satu pun terjawab.  Sering saya berteriak minta tolong, namun Dia diam seribu bahasa. Saya mengembangkan rasa  putus asa.  Dan marah.

Hingga pada suatu hari saya merasakan dorongan yang kuat di dalam hati saya untuk pergi ke kapel (ada kapel di lembaga tempat saya bekerja).   Ketika saya duduk,  saya langsung bertanya, “Ada apa? Kau mau bicara apa?”

Rupanya setelah dua tahun berdiam diri, Tuhan mulai angkat bicara.  Ia menjelaskan segala sesuatu dan hati saya tidak hanya memahami melainkan berkobar-kobar.  Air mata saya berlinang-linang di akhir percakapan. Ia membuat saya mampu “melihat kembali”.  Saya mengalami relasi yang baru dengan Tuhan. 

”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.  Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (ayub 42: 5-6).

Senin, 09 Mei 2011

Terlambat Aku Mengenal-Mu

 
“Aku tidak mau mengingat Dia …. maka dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala terkurung dalam tulang-tulangku,
aku berlelah-lelah untuk menahannya tetapi aku tidak sanggup”. (Yer 20: 9).

Keluh kesah Yeremia tersebut sangat mewakili pergulatan hati saya dalam mendengarkan, memahami dan akhirnya mentaati kehendak Allah.  Untuk sampai pada kesanggupan mengatakan “YA” atas panggilan Tuhan menjadi sahabat setia-Nya, perjalanan rohani saya berliku-liku.  Jalannya naik-turun, terang dan gelap, namun bila kini saya menegok ke belakang, keindahannya tak terperikan.  Sempurna.

**************
Bagian 1.

Saya tidak dibesarkan dalam tradisi Katolik karena Bapak ibu saya penganut Kejawen (agama tradisional Jawa). Sungguhpun saya dibesarkan dalam tradisi keluarga yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur  namun pendidikan agama tidak merupakan prioritas.  Keluarga besar ayah saya kebanyakan beragama Kristen Protestan sedang dari sisi ibu mereka adalah muslim yang taat.  Di salah satu desa tempat saya dibesarkan (itu karena kami sering pindah tempat tinggal), Islam adalah satu-satunya agama yang saya kenal.  Setidak-tidaknya itulah yang saya pelajari di Sekolah Dasar.

Pada saat kelas lima SD, mulailah saya sholat dan berpuasa sebagaimana layaknya anak-anak yang lain tanpa ada yang menyuruh dan menuntun. Saya belajar dari buku tuntunan shalat yang saya pinjam dari seorang teman dan saya masih ingat damainya hati ketika mengambil air wudhlu sebelum sholat.  Saya kira itulah benih kerinduan awal untuk berrelasi dengan Tuhan Pencipta.

Lulus SD, saya melanjutkan sekolah  ke kota (Solo).  Kakak saya (yang sudah menjadi Katolik) mendaftarkan saya sebagai siswi beragama Katolik.  Jadilah saya masuk kelompok siswa Katolik tanpa ide apapun mengenai Agama Katolik.  Itu mencemaskan.  Saya ingat betapa takutnya saya sewaktu pada awal mengikuti pelajaran Agama Katolik, terutama pada saat doa. Doanya sendiri tidak menakutkan,  yang menakutkan adalah ‘mandapatkan giliran’ untuk memimpin doa. Ketika yang lainnya membuat tanda salib, yang spontan muncul dalam hati saya adalah Bismillah.

Seiring berjalannya waktu Tuhan semakin serius dalam membangun  iman saya. Tidak ada yang menyuruh atau  mendorong, sama seperti saat saya mulai mempelajari Agama Islam, saya memutuskan untuk ikut katekumen di paroki Purbayan Solo.  Itu adalah paroki terdekat dari tempat kos saya.  Pengajarnya seorang Suster Fransiskanes (OSF).  Itulah perjumpaan awal dan dekat dengan sosok biarawati.  Selama satu tahun mengikuti katekumen, akhirnya saya dibabtis saat kelas tiga SMP. Itulah hari ketika saya secara definitif menjadi seorang Katolik.

Dari segi iman, saya cukup setia dengan doa novena, rosario dan sesekali membaca Kitab Suci. Tetapi pengalaman akan Allah itu seperti apa, saya tidak mengerti. Pelajaran agama di sekolah saya ikuti dengan tekun.  Saya “mengetahui” siapa Tuhan namun tidak merasa mengalami Allah yang hidup sebagaimana diajarkan dalam pelajaran. Menjadi suster?  Itu jauh dari angan-angan.  Saya ingin bekerja di luar Jawa, memiliki banyak uang dan mengunjungi tempat-tempat baru dan asing.  Saya suka perjalanan.  Kelak terbukti bahwa dengan menjadi suster, saya menembus batas-batas wilayah dan mengenal budaya berbagai negeri.

”Tuhan , mengapa Kau ciptakan aku? Kalau hidup memiliki tujuan, apakah itu? Kalau hidup ini Kau kehendaki dan ada tujuannya, bagaimana saya bisa mengetahuinya?  Bagaimana saya harus mengisi hidup agar bermakna?”.Selepas  SMA saya melajutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada saat di perguruan tinggi inilah sejarah panggilan saya dimulai. Ada dua peristiwa penting yang menjadi titik tolaknya.

Pertama, terjadi ditahun terakhir saya kuliah, semester tujuh tepatnya. Saya merasa studi saya akan segera berakhir, status sebagai mahasiswa menjelang kadaluwarsa, what next? Memikirkan hal itu membuat hati saya berdesir – desir. Saya  cemas.   Kemudian pertanyaan tersebut menjadi sangat signifikan pada peristiwa berikutnya.  Sore itu saya keluar ke teras di samping kost saya. Sambil memandang langit Bogor yang cerah dan alam sekitar yang hijau, saya bertanya dalam hati, ”Tuhan , mengapa Kau ciptakan aku? Kalau hidup memiliki tujuan, apakah itu? Kalau hidup ini Kau kehendaki dan ada tujuannya, bagaimana saya harus mengisi hidup agar bermakna?”.   Lama kemudian  saya menyadari bahwa setiap orang, pada saat tertentu, akan sampai pada pertanyaan semacam itu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendasar karena berkenaan dengan makna hidup. Saya tidak mempunyai ide bagaimana menemukan jawabnya.  Kiranya waktu itu saya belum mengenal Allah meski saya mengaku beriman.  Ini adalah tahap Samuel muda yang meski tinggal dalam bait Tuhan namun belum mengenal Allah.

Kedua,  ketika saya mengikuti misa minggu panggilan di Katedral Bogor. Misa itu dipimpin oleh seorang imam dari ordo Fransiskan (OFM). Diakhir homilinya, beliau mengajukan pertanyaan ini ”Tuhan memanggil, siapakah yang akan menanggapi kalau bukan kita?”  Sepulang dari misa, sambil berjalan mengitari Kebun Raya Bogor, saya menyadari pertanyaan tadi tetap menggema di hati dan pikiran saya. Pertanyaan tersebut  akhirnya bukan lagi untuk orang lain, melainkan untuk diri saya sendiri. Pertanyaannya berubah menjadi ”Tuhan memanggil, siapakah yang akan menanggapi kalau bukan saya?”  Heroik, itulah yang saya rasakan. Ada dorongan  untuk menjawab, berkorban dan hidup secara berbeda demi Tuhan. Saya mulai berangan-angan, apa jadinya kalau saya menanggapi ini?

Dua peristiwa itulah yang memunculkan gagasan menjadi suster.  Sejak itu saya rajin ikut misa pagi di kapel milik Suster Gembala Baik. Kebetulan kapel tersebut dekat dengan tempat kost saya. Saya menemukan kegembiraan dengan  mendengarkan para suster berdoa bersama sebelum misa dimulai. Ketika pagi masih buta dan kebanyakan makhluk masih terlelap, para suster bangun dan menyucikan dunia.  Saya merasakan damai dan tenang saat mendengarkan mereka berdoa.  Belakangan, saya tahu bahwa itu adalah doa ofisi// brevir.  Saya mulai memikirkan seandainya saya menjadi salah satu dari mereka.  Ah, betapa pikiran tersebut mulai lebih sering datang.  Kalau dipikir, inilah barangkali -secara serius- Tuhan mulai mengacaukan pikiran dan hati saya.